🔊 Dalam menjalankan tugas jurnalistik, seluruh wartawan media online Swara HAM Indonesianews.com dibekali dengan Tanda Pengenal. Harap tidak melayani oknum-oknum yang mengatas namakan media online Swara HAM Indonesianews.com tanpa dilengkapi Tanda Pengenal           🔊 Segala tindakan pelanggaran Hukum yang dilakukan oleh wartawan Swara HAM Indonesianews.com menjadi tanggaungjawab yang bersangkutan

Jacob Ereste : *Potensi Budaya dan Tradisi Suku Bangsa Nusantara Memimpin Peradaban Masa Depan Manusia di Bumi*

Swara Ham Indonesia News,Com

Tirakat atau riyadhah sebagai bagian dari laku spiritual bisa dan biasa dilakukan orang untuk mengendalikan hawa nafsu agar mencapai satu tingkatan yang berkualitas dengan cara berpuasa, berpantang atau menyendiri di suatu tempat yang dianggap nyaman dan menenteramkan hati agar khusuk melakukan perenungan, berdo'a atau hanya mengosongkan pikiran guna menyelam pada kedalaman hati dalam suasana yang sakral.

Di kalangan pesantren laku tirakat sebagai tahapan dari pengembaraan spiritual untuk mendapatkan semacam dimensi dari kecerdasan dan ketajaman spiritual untuk merasakan yang tidak terlihat, mendengan kesunyian di kejauhan yang tidak berdusta, melihat banyak hal yang tidak tampak sambil merasakan sentuhan dan belaian Tuhan.

Laku tirakat ini dalam kisah sejarah menjadi  cara suku bangsa Nusantara menjelajahi wilayah agama yang belum ada sebutan maupun namanya. Karena itu, beragam kepercayaan yang dimiliki khas oleh suku bangsa Nusantara sangat beragam sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman yang melandasi kepercayaan dan keyakinan suku bangsa Nusantara itu masing-masing. Maka itu di Jawa Barat kepercayaan dan keyakinan Sunda Wiwitan. Kepercayaan ini asli dari warisan secara turun temurun  suku bangsa Sunda yang mengakar dalam budaya serta spiritualis yang teguh memelihara hubungan harmoni antara manusia, alam dan Tuhan -- Sang Hyang Kersa -- pencipta dan penguasa jagat raya.

Kepercayaan dan keyakinan yang dimaksud Sunda Wiwitan ini masih cukup banyak dianut oleh berbagai komunitas Sunda di pedesaan termasuk suku Badui di Banten. Syahdan, historisnya Sunda Wiwitan berarti "Sunda yang asal" atau "Sunda yang pertama" hingga kemudian masuk agama Samawi yang kemudian banyak diikuti oleh sebagian besar suku bangsa Sunda seperti yang ada sekarang. Etos budaya Sunda cukup banyak seperti yang disebut cageur, bageur, bener, singer dan pinter yang diekspresikan dalam upacara panen padi dalam bentuk Saren Tahun.

Sunda Wiwitan konon sudah ada jauh sebelum Hindu-Budha yang telah hidup dalam sistem keyakinan animisme dan dinamisme dengan memuja roh para leluhur dan kekuatan alam sebagai bagian dari laku spiritualnya yang sakral.

Urang Sunda yang ditengarai berasal dari suku bangsa Austronesia yang mendiami bagian Barat Pulau Jawa di Indonesia acap disebut dengan istilah Tatar Pasundan yang meliputi Provinsi wilayah Jawa Barat, Banten, Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan sebagian Jawa Tengah.

Lalu sistem kepercayaan suku bangsa Jawa Tengah umumnya adalah Kejawen. Meski dalam berbagai risalah Kejawen lebih dipahami sebagai ekspresi seni, budaya, tradisi, sikap dan prilaku serta bentuk ritual dan filosofi masyarakat Jawa yang erat terkait dengan spiritualitas untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta dan Penguasa jagat raya atau alam semesta.

Syahdan, dari berbagai catatan, kepercayaan Kejawen ini telah mengalami perkembangan seiring dengan agama yang dianut oleh para pengikutnya  hingga munculnya Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Budha Kejawen dan Kristen Kejawen. Karenanya, mereka yang berhimpun dalam paguyuban maupun perkumpulan Kejawen menjadi beragam warna agama yang dianut tidak hanya agama samawi, tetapi juga agama lain yang ada juga di Indonesia. Tapi pada hakekatnya semua memiliki pemahaman serta  kesadaran spiritual yang sangat kuat.

Kejawen sendiri merupakan ajaran yang dianut dan dikembangkan oleh para filsuf Jawa yang mengakar dalam budaya dengan basis etika dan moral untuk kehidupan yang lebih baik, lebih selaras dan harmoni dengan alam lingkungan. Namun Kejawen yang melekat pada budaya dan tradisi serta upacara yang kental spiritualitasnya terus langgeng melalui upacara nyadran, mitoni, tedhak Siten, wetonan dan tradisi budaya Jawa yang lain.

Di Jawa pun ada Suku Tengger dan Osing yang menerima warisan dari para leluhur dengan kepercayaan terhadap Sang Hyang Widhi dan Wass sebagai ekspresi dari perwujudan Tuhan. Dan upacara Kasada yang dilakukan setiap tahun berdasarkan kalender Jawa, serangkaian upacara Karo, Unan-unan, Entas-entas yang berdasarkan pada penanggalan suku Tengger.

Pada intinya kepercayaan suku Tengger untuk keseimbangan hidup manusia agar selaras dengan alam dan lingkungan.

Sama halnya dengan suku Osing di Jawa yang memiliki kepercayaan yang beragam. Seperti suku Sasak di Lombok yang sangat religius magis, kini  dominan beragama Islam. Khususnya di Kabupaten Lombok Barat, kota Mataram dan Kabupaten Lombok Utara. Dan di dalam tradisi suku Sasak masih dominan menekuni tradisi Ngurusan, semacam aqiqah dalam tradisi ritual agama Islam.

Yang menarik dari kepercayaan suku Sasak di Lombok ini adanya tiga klasifikasi  dalam pahaman kepercayaan, yaitu Bude, Wetu Telu dan Islam Lima atau "Islam" saja.

Pemahaman terhadap Wetu Telu masih banyak terdapat di Lombok Utara, desa Bayan. Sedangkan Sasak Bude tinggal tersisa sedikit di kampung Ganjar.

Lain lagi dengan Tolotang, agama asli suku Bugis yang ada di Sulawesi Selatan yang diwariskan secara turun temurun di Kabupaten Sidenreng Rappang. Syahdan, pada tahun 2605, suku Bugis telah menerima peralihan dari kepercayaan animisme menjadi Islam. Namun dalam tradisi suku Bugis yang asli juga percaya terhadap satu Dewa Sruwae yang tunggal. Lalu ada kisah Sure I La Galigo yang percaya pada Dewatae.

Di Sumatra Utara misalnya ada agama asli masyarakat setempat yang disebut Ugamo Malim. Kepercayaan turun menurun ini dipercaya oleh masyarakat Batak sebelum masuknya agama Samawi. Ugamo Malim juga dikenal dengan sebutan Parmalim. Kepercayaan terhadap roh atau arwah para leluhur ini juga disebut perbagu atau Pelebegu.

Dalam.keyalinan orang Batak pada umumnya mengakui adanya satu Tuhan sebagai pencipta alam semesta yang disebut Mulajadi Nanolon (Sang Awal Penjadi Yang Agung). Dan kain ulos yang dinilai sakral dalam tradisi masyarakat Batak dapat memberi perlindungan dari segala cuaca dan kondisi menjadi nyaman. Karena itu kain ulos selalu dikenakan dalam semua upacara adat yang dianggap memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi. Seperti dalam upacara perkawinan, pesta adat kelahiran hingga upacara kematian 

Dari semua sistem kepercayaan dan keyakinan suku bangsa Nusantara yang sangat kaya dan beragam potensi spiritualnya yang ada, maka pantas dan patut warisan para leluhur itu dapat menjadi kekuatan pendorong bangkitnya gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual bagi bangsa Indonesia menjadi memimpin sekaligus menjadi pelopor serta maupun pusat dari gerakan kebangkitan dan kesadaran spiritual bagi bangsa-bangsa di dunia untuk membangun peradaban yang kuat mengakar dalam etika, moral serta akhlak manusia yang tak abai pada ajaran dan tuntunan agama agar tak pongah hidup di bumi. Sebab pada akhirnya kelak akan hidup di alam yang abadi.

Cispus,  2 April 2025

Posting Komentar untuk "Jacob Ereste : *Potensi Budaya dan Tradisi Suku Bangsa Nusantara Memimpin Peradaban Masa Depan Manusia di Bumi* "